JAKARTA - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1446 Hijriah, perhatian pemerintah tertuju pada pergerakan harga pangan yang mulai menunjukkan tren kenaikan di sejumlah komoditas strategis.
Lonjakan harga ini menjadi sorotan karena berpotensi menekan daya beli masyarakat di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi selama Ramadan. Pemerintah pun menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga agar tidak membebani masyarakat.
Berdasarkan data Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada Rabu pagi, 18 Februari 2026 pukul 07.30 WIB, beberapa komoditas pangan utama tercatat mengalami kenaikan harga dibandingkan hari sebelumnya. Salah satu yang paling mencolok adalah cabai rawit merah, yang harganya telah melampaui batas acuan pemerintah.
Harga Cabai Rawit Merah Tembus Harga Acuan
Data Bapanas menunjukkan rata-rata harga cabai rawit merah nasional mencapai Rp77.533 per kilogram. Angka tersebut naik 2,32% dibandingkan harga sehari sebelumnya. Kenaikan ini membuat harga cabai rawit merah berada jauh di atas Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah, yakni di kisaran Rp40.000 per kilogram hingga Rp57.000 per kilogram.
Lonjakan harga cabai rawit merah bukan fenomena baru menjelang Ramadan, mengingat komoditas ini kerap mengalami peningkatan permintaan seiring meningkatnya konsumsi rumah tangga dan usaha kuliner. Namun demikian, pemerintah menilai kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak dini agar tidak memicu inflasi pangan yang lebih luas.
Minyakita Masih di Atas HET
Selain cabai rawit merah, komoditas minyak goreng rakyat Minyakita juga masih menjadi perhatian. Harga Minyakita dilaporkan masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp15.700 per liter. Kondisi ini menandakan masih adanya tantangan dalam menjaga kestabilan harga pangan pokok, khususnya barang yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan harian masyarakat.
Pemerintah memandang harga Minyakita sebagai indikator penting stabilitas pasar pangan, mengingat minyak goreng merupakan salah satu komoditas yang sangat sensitif terhadap perubahan pasokan dan distribusi.
Kemendag Pastikan Pasokan Pangan Aman
Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa Kementerian Perdagangan telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menstabilkan harga pangan menjelang Ramadan. Salah satu langkah awal yang dilakukan adalah memastikan ketersediaan pasokan dari para pelaku usaha.
“Yang pertama, kemarin kita sudah kumpulkan pelaku usaha untuk memastikan pasokan ada atau tidak. Mereka menyampaikan pasokan semua ada, tidak ada masalah,” kata Budi ketika ditemui di Gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Menurut Budi, hasil koordinasi tersebut menunjukkan bahwa secara umum pasokan pangan nasional berada dalam kondisi aman. Dengan demikian, kenaikan harga yang terjadi tidak disebabkan oleh kelangkaan barang, melainkan lebih pada faktor distribusi dan dinamika pasar di tingkat daerah.
Distribusi Jadi Fokus Pengendalian Harga
Selain memastikan pasokan, Kementerian Perdagangan juga memberikan perhatian khusus pada jalur distribusi. Budi menilai distribusi yang tidak optimal dapat menyebabkan disparitas harga antarwilayah, meskipun pasokan nasional mencukupi.
“Kemudian distribusinya, saya minta pasar-pasar yang tadi harganya agak tinggi itu distribusinya harus benar-benar diperhatikan,” ujar Budi.
Ia menekankan bahwa pengawasan distribusi akan diperketat, terutama di wilayah yang mencatatkan harga di atas rata-rata nasional. Pemerintah berupaya memastikan tidak ada hambatan logistik, penumpukan stok, maupun praktik yang berpotensi mengganggu kelancaran distribusi pangan.
Sinergi Lintas Kementerian dan Satgas Pangan
Lebih lanjut, Budi menyampaikan bahwa stabilisasi harga pangan tidak dilakukan oleh Kementerian Perdagangan secara sendiri. Pemerintah menerapkan pendekatan kolaboratif dengan melibatkan berbagai kementerian dan lembaga terkait.
Budi mengungkapkan bahwa para pelaku usaha dan kementerian telah mencapai kesepakatan bersama dalam upaya pengendalian harga. Selain itu, masing-masing kementerian juga memiliki satuan tugas untuk memantau perkembangan harga pangan di lapangan.
“Jadi kita itu kerja bareng-bareng, tidak hanya sendiri. Dengan Bapanas, Kementerian Pertanian, dan kementerian yang lain, pemerintah daerah, Polri, Satgas Pangan, kita bareng-bareng memonitor supaya tidak ada harga-harga yang naik. Kalaupun itu naik, kita cari masalahnya apa,” kata Budi.
Pendekatan lintas sektor ini diharapkan mampu mempercepat respons pemerintah terhadap gejolak harga, sekaligus memastikan solusi yang diambil tepat sasaran, baik dari sisi produksi, distribusi, maupun pengawasan pasar.
Pemerintah Waspadai Potensi Kenaikan Harga Ramadan
Dengan meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang dan selama Ramadan, pemerintah menyadari potensi kenaikan harga pangan akan selalu ada. Oleh karena itu, langkah antisipatif menjadi kunci agar stabilitas harga tetap terjaga dan daya beli masyarakat tidak tergerus.
Pemantauan harga secara real-time, koordinasi lintas lembaga, serta pengawasan distribusi di lapangan menjadi instrumen utama pemerintah dalam mengendalikan gejolak harga pangan. Pemerintah juga menegaskan akan terus mengevaluasi kebijakan yang telah dijalankan agar respons terhadap dinamika pasar dapat dilakukan secara cepat dan terukur.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat, daerah, serta pelaku usaha, pemerintah optimistis stabilitas harga pangan menjelang Ramadan 1446 Hijriah dapat terjaga, sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih tenang tanpa dibayangi lonjakan harga kebutuhan pokok.